Kamis, 10 Januari 2013

Belajar dari Aisyah ra.


Ahli Puasa dan Ahli Ibadah
Wanita muslimah sangat mengerti dengan segala perintah Allah. Hal tersebut membuat wanita muslmah enggan melakukan hal yang tidak bermanfaat dan selalu ingin mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang tidak sia-sia. Oleh karena itu Anda akan melihat mereka rajin puasa dan tekun beribadah. Wanita-wanita ahli ibadah yang berada pada urutan pertama adalah generasi sahabat. Urutan pertama dari generasi sahabat ialah istri-istri Rasulullah serta keluarganya. Sedangkan yang berada pada urutan pertama dari istri nabi ialah Aisyah r.a.
Al-Qasim berkata, “Aisyah melakukan puasa sepanjang masa (shaumud dahr)”
Urwah menuturkan bahwa Aisyah r.a selalu berpuasa. Al-Qasim menambahkan, ia hanya berbuka (tidak berpuasa) pada saat idul fitri dan idul adha.
Aisyah senang sekali memanjangkan doanya. Suatu ketika saat Nabi berada disamping Aisyah yang sedang berdoa hingga menangis merasa bosan menunggu, sehingga ia pergi ke pasar untuk membeli suatu keperluan. Ketika beliau kembali pun ternyata Aisyah masih dalam keadaan berdoa sambil menangis.

Ini merupakan Ketetapan Allah bagi Putra-Putri Adam
Aisyah selalu tidak meninggalkan bentuk ibadah apapun untuk menjaga ketaatannya. Suatu ketika saat ibdah haji, Aisyah menangis karena tidak dapat melaksanakan ibadah haji lantaran sedang haid. Kemudia rasulullah mengizinkan Aisyah ikut setelah melakukan mandi besar. Aisyah ingin melakukan ibadah dengan maksimal sehingga ia senantiasa bertanya kepada Rasulullah saat pelaksanaan ibadah haji.

Jihad kalian adalah Haji
Besarnya semangat aisyah untuk menjalankan setiap ketaatan yang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah mendorong beliau untuk meminta izin kepada Nabi melakukan Jihad. Mengapa? Sebab ia tahu keutamaan dari jihad.
Aisyah menuturkan, “Aku pernah izin kepada Nabi saw. Agar dibolehkan ikut berjihad. Beliau menjawab, ‘jihad kalian (kaum muslimah) adalah haji.’”
Walaupun Aisyah tidak diizinkan untuk berjihad, Aisyah tetap menunjukkan kesabaran yang tinggi serta senantiasa membantu mereka dalam menyiapkan perlengkapan perang.

Lembaran Keagungan dari Medan Pertempuran dan Jihad
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, walaupun Aisyah tidak dizinkan berperang, ia tetap berkontribusi dalam medan peperangan dengan melakukan hal yang dibenarkan dalam syariat islam seperti membawa makan dan minuman kepada pasukan, mengobati dan merawat tentara yang terluka, dan menyiapkan logistik. Contohnya adalah ketika perang Uhud, Aisyah ra. Turut andil membawa air di atas pundaknya untuk memberi minum kepada para mujahidin, padahal saat itu usianya masih sangat muda. Ia tetap terjun dalam medan perang yang sekaligus pengalaman pertama dalam hidupnya.

Beginilah seharusnya Keadaan Rumah-rumah Kaum Muslimin
Sebuah cerita dari Aisyah ketika paman sepenyusuannya datang untuk bertamu.  Ia tidak mengizinkannya masuk hingga Rasulullah memberikan izin. Aisyah sangat menjaga kehormatan suaminya dengan senantiasa izin kedaan apapun. Walaupun pamannya sendiri yang bertamu. Begitulah seharusnya keadaan rumah tangga seorang muslimin, saling menghargai dan menghormati anggotanya agar tercipta kehidupan bersih dan suci lahir batin.

Tidak ada komentar: