Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

Belajar dari Aisyah ra.


Ahli Puasa dan Ahli Ibadah
Wanita muslimah sangat mengerti dengan segala perintah Allah. Hal tersebut membuat wanita muslmah enggan melakukan hal yang tidak bermanfaat dan selalu ingin mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang tidak sia-sia. Oleh karena itu Anda akan melihat mereka rajin puasa dan tekun beribadah. Wanita-wanita ahli ibadah yang berada pada urutan pertama adalah generasi sahabat. Urutan pertama dari generasi sahabat ialah istri-istri Rasulullah serta keluarganya. Sedangkan yang berada pada urutan pertama dari istri nabi ialah Aisyah r.a.
Al-Qasim berkata, “Aisyah melakukan puasa sepanjang masa (shaumud dahr)”
Urwah menuturkan bahwa Aisyah r.a selalu berpuasa. Al-Qasim menambahkan, ia hanya berbuka (tidak berpuasa) pada saat idul fitri dan idul adha.
Aisyah senang sekali memanjangkan doanya. Suatu ketika saat Nabi berada disamping Aisyah yang sedang berdoa hingga menangis merasa bosan menunggu, sehingga ia pergi ke pasar untuk membeli suatu keperluan. Ketika beliau kembali pun ternyata Aisyah masih dalam keadaan berdoa sambil menangis.

Ini merupakan Ketetapan Allah bagi Putra-Putri Adam
Aisyah selalu tidak meninggalkan bentuk ibadah apapun untuk menjaga ketaatannya. Suatu ketika saat ibdah haji, Aisyah menangis karena tidak dapat melaksanakan ibadah haji lantaran sedang haid. Kemudia rasulullah mengizinkan Aisyah ikut setelah melakukan mandi besar. Aisyah ingin melakukan ibadah dengan maksimal sehingga ia senantiasa bertanya kepada Rasulullah saat pelaksanaan ibadah haji.

Jihad kalian adalah Haji
Besarnya semangat aisyah untuk menjalankan setiap ketaatan yang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah mendorong beliau untuk meminta izin kepada Nabi melakukan Jihad. Mengapa? Sebab ia tahu keutamaan dari jihad.
Aisyah menuturkan, “Aku pernah izin kepada Nabi saw. Agar dibolehkan ikut berjihad. Beliau menjawab, ‘jihad kalian (kaum muslimah) adalah haji.’”
Walaupun Aisyah tidak diizinkan untuk berjihad, Aisyah tetap menunjukkan kesabaran yang tinggi serta senantiasa membantu mereka dalam menyiapkan perlengkapan perang.

Lembaran Keagungan dari Medan Pertempuran dan Jihad
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, walaupun Aisyah tidak dizinkan berperang, ia tetap berkontribusi dalam medan peperangan dengan melakukan hal yang dibenarkan dalam syariat islam seperti membawa makan dan minuman kepada pasukan, mengobati dan merawat tentara yang terluka, dan menyiapkan logistik. Contohnya adalah ketika perang Uhud, Aisyah ra. Turut andil membawa air di atas pundaknya untuk memberi minum kepada para mujahidin, padahal saat itu usianya masih sangat muda. Ia tetap terjun dalam medan perang yang sekaligus pengalaman pertama dalam hidupnya.

Beginilah seharusnya Keadaan Rumah-rumah Kaum Muslimin
Sebuah cerita dari Aisyah ketika paman sepenyusuannya datang untuk bertamu.  Ia tidak mengizinkannya masuk hingga Rasulullah memberikan izin. Aisyah sangat menjaga kehormatan suaminya dengan senantiasa izin kedaan apapun. Walaupun pamannya sendiri yang bertamu. Begitulah seharusnya keadaan rumah tangga seorang muslimin, saling menghargai dan menghormati anggotanya agar tercipta kehidupan bersih dan suci lahir batin.

Kamis, 29 Desember 2011

Ragam olahan melon

lagi iseng browsing tentang melon, ternyata menarik euy dan perlu anda ketahui. ahaha cekitdot

1. susu melon
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi1CKkBkpqErRAQ0Isx6l88Zey3rNrkUjqax5iae6j7a4_8PDtfSV0aGtpK1uV3psQyQ_SYT62Rv6ay8noWLLOVXL2aN14qLv1zNdhTJB7qSndUwoWQfNKZT9i-Rv-_8kQsb21-ffmOQA/s1600/melao-com-leite.jpg

2. melon kotak
http://matanews.com/wp-content/uploads/melon-kotak.jpeg

3. salad melon campur
[IMG]http://i5.photobucket.com/albums/y187/vsamperuru/v-FruitSalad1.jpg[/IMG]

4. jus melon
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDz3321A5KgIXOnNQYmCL7ObtGE5CnGpwcZHujxXON5WkZs5m_88VkM7OU7zDipTtXuJMmiG3ZFZQkBoVg7mdb3Pn4wJtEJYFkSk6LJwj7stO8nnbk2_DWN8kRO2CkffzMgfPYhGbsy5M/s1600/jus%252520melon.jpg

5. smooked beef melon
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGoU2keW4n5eQwOeBl4yj1Zklk6Bh6jE1C5WPAbk-ls6nqUhkBqcoRTl0hIKLZ02E5ClIQr0E2nInIKujAfKXpLikKi6IWTHFt7l7X9_n5ihs9EVKMrHoG11hfSUFUNkkhCUg5g7lDVCI/s1600/100_1383.JPG

6. mochi melon
http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/6H/001A2GB57C5160E8F58E7Em.jpg
7. melontea
http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/5C/0011ZIBE082F5E31138549m.jpg
8. winter melon soup
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQHHPdrQyJi9m_NT9NdOhe_FmdyRwPJE1SeKJhY0TIJrf1xk2beuMNBMI7ws8M4v3hsXjGWs8YKKkXPZgcsSWJhpTM2FZd5YhUU1e2zFXgkpxuV8mQjQHzFdOfYYvMwXf-WI2cgDQijuP1/
/winter%2Bmelon%2Bsoup%2Bcopy.jpg 
9. pai melon
http://gendiscake.files.wordpress.com/2008/09/dsc00052.jpg

10. coklat melon a.k.a kit kat melon
http://i46.photobucket.com/albums/f121/shilenx/kitkat_melon.jpg

11. es jelly melon
http://anekaresepmasakan.info/wp-content/uploads/2011/08/Es-Jelly-Melon.jpg

12. es krim melon
http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/5U/0015LS5A99AFC45573538Cm.jpg

13. yogurt melon
http://id.openrice.com/UserPhoto/photo/0/3X/000RXZ3717E799C60E9EF2m.jpg

banyak kaaan :D yaah, tapi bagaimanapun juga yang satu ini paling seger!

http://www.wikinoticia.com/images/www.femenino.info.feed/www.femenino.info.wp-content.uploads.melon_yubari1.jpg

Sabtu, 16 Juli 2011

ambillah semua yang kumiliki


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.
Pohon apel itu kembali sedih.


Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. AKU SANGAT LELAH SETELAH SEKIAN LAMA MENINGGALKANMU.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita  memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan,yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Semoga kesempatan itu masih ada.


Sabtu, 14 Mei 2011

Cintai Dirimu

Allah SWT berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“……maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm:32).

Mengetahui dan menyadari kesalahan adalah awal kebaikan. Sementara merasa benar terus adalah awal dari kehancuran. Kesalahan memang merupakan tabiat manusia, namun tidaklah bijaksana bila kita terus menerus melanggengkan kesalahan apalagi mewariskannya kepada binaan-binaan atau anak-anak kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”. (An-Nisa:9)

Ayat diatas mengingatkan kita adanya keterkaitan yang erat antara kuat atau lemahnya generasi penerus dengan ketakwaan dan kebenaran ucapan orang tua atau pembina. Oleh karena itu sepantasnyalah kita selalu mawas diri jangan sampai kita mewariskan keburukan kepada penerus-penerus kita.

Hendaklah kita menjadi pribadi yang malu bila berbuat salah. Malu kepada Allah dan malu kepada orang-orang beriman. Tidak cukup sekadar mengetahui bahwa diri kita salah, tetapi kita begitu manja meminta permakluman dari Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Yang harus kita lakukan bukan hanya menjauhi kesalahan-kesalahan yang besar dan fatal tetapi juga berusaha menghindarkan diri dari kekeliruan-kekeliruan kecil. Sebab apapun bentuknya bila kita sadar melakukan kesalahan tetap saja itu merupakan dosa.

Siapa pun kita pasti pernah terjatuh pada kesalahan. Tugas kita adalah memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Untuk kesalahan pada sesama manusia tentu saja kita harus meminta maaf lebih dulu kepada mereka. Jangan gengsi untuk mengakui kesalahan. Jangan sampai kita berbohong untuk membela kesalahan kita. Apalagi kita berargumen untuk membela kesalahan tersebut dan meminta orang lain menganggap bahwa kesalahan kita adalah kebenaran, na’udzubillahi min dzalik.


Allah paling mengetahui tentang diri kita dan melebihi pengetahuan kita. Maka janganlah kita merasa diri kita bersih dan merasa diri paling benar. Kalaupun kita benar dan orang lain salah kita tidak boleh melecehkan kesalahannya. Kalau kita tidak ingin aib kita dibuka orang lain maka jangan buka aib orang lain. Meluruskan diri sendiri dan orang lain tidak perlu dengan cara membuka aib. Cukuplah kita meminta ampun kepada Allah dan melakukan langkah-langkah perbaikan yang lebih menjaga kehormatan diri dan orang lain. Terkadang ada orang yang karena kesalahannya terlanjur dibeberkan menjadi malu dan bersikap antipati, bukan hanya kepada yang membeberkan tetapi juga kepada wadah di mana si pembeber aib bernaung.

“Janganlah karena engkau orang jadi benci terhadap Islam” (Al Hadits).

Kebenaran harus diperjuangkan dengan cara yang benar pula,

الغاية لا تبرر الوسيلة

(tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara).

Jadi masalahnya bukan tidak boleh mengungkap kesalahan orang lain, tapi bagaimana caranya agar pengungkapan itu tidak membawa dampak negative bagi yang bersangkutan: menghalanginya dari jalan Allah. Teruslah memperjuangkan kebenaran. Jantanlah mengakui kesalahan dan bijaksanalah dalam meluruskan kesalahan orang lain. Keberhasilan berawal dari kesadaran akan kesalahan, sehingga setiap pribadi senantiasa terus memperbaiki diri menuju kepada kesempurnaan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah:208)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran:133-135)

Ikhwan dan akhwat fillah…

Dalam sirah mencatat akan pengakuan seorang wanita Al Ghamidiyah yang telah terjatuh kepada perzinahan. Bukan hanya sekadar mengaku tetapi wanita tersebut ingin bertaubat dan minta dirajam. Saat itu Rasulullah menyuruh wanita tersebut melahirkan dan menyusui dulu anak dari hasil perzinahan tersebut. Setelah si anak sudah disapih barulah dilaksanakan hukum rajam. Dalam peristiwa itu terucap dari lisan Rasul bahwa wanita tersebut dijamin masuk surga.

Hikmah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah betapa dengan pemahaman yang seadanya saja seseorang berani mengakui kesalahannya. Maka sepantasnyalah mereka yang memiliki pemahaman yang dalam lebih bersikap kesatria mengakui kesalahannya. Tidak cukup sekadar mengakui kesalahan tetapi harus dilanjutkan dengan taubat, kembali kepada kebenaran. Bila mengakui kesalahan tetapi tetap berkubang di kemaksiatan bagaikan kuda nil yang berkubang di lumpur kotor dan bau.

Bertaubat berarti mau membersihkan diri, bersedia dihukum dan siap melakukan hal-hal yang dapat menghapus kesalahannya. Rajam adalah salah satu bentuk hukuman sekaligus penyucian. Dan tentu saja harapan utama yang ingin dicapai adalah keridhaan Allah dan surganya. Bagi yang berwenang untuk melaksanakan hukuman tentu harus bijaksana sebagaimana Rasul. Jangan jijik dan sinis mengetahui kesalahan orang lain. Hantarkan kesalahan orang menuju kepada taubatnya. Mengantarkan si salah untuk meraih surga. Bukan membuat dia putus asa, mengurung diri atau, na’udzubillahi min dzalik, bunuh diri.

Kalau kita ingin orang lain memaklumi kesalahan kita dan memberi kesempatan kita untuk berbenah diri maka kita juga harus mau memaklumi kesalahan orang lain dan memberinya kesempatan bertaubat.

Berkenaan dengan sosialisasi penjatuhan sanksi seyogyanya ikhwan dan akhwat fillah memandangnya sebagai sarana bersuci. Inilah kesempatan untuk lebih menyelami arti haasibuu anfusakum qabla antuhaasabuu.

Kita bahkan harus merasa dibantu oleh saudara-saudara kita lewat program tersebut. Tentunya program ini berlaku bagi semua. Tidak ada yang kebal hukum. Fatimah pun kalau mencuri pasti dipotong tangannya oleh Rasul. Maka di manapun posisi kita dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus berani mengakui kesalahan, dan tentu saja juga siap dikenakan sanksi. Namun jangan kaget bila ada orang yang kita hormati atau kita kagumi suatu ketika juga terkena sanksi. Itu manusiawi. Bahkan itu menunjukkan kematangan tokoh kita tersebut (mau mengakui kesalahannya). Semua benda yang tidak steril (bukan nabi) pasti berdebu, pasti punya salah dan dosa. Maka jangan kita biarkan debu itu melekat, mari sama-sama bersihkan dengan semangat bersuci diri.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya”(As-Syams: 9-10)

Betapa kita menyadari seringkali kita gagal untuk terus bertahan dalam kebaikan. Mungkin itu disebabkan karena kita terlalu menganggap remeh kesalahan atau terlalu memanjakan diri dengan sifat Allah yang Maha Pengampun. Dengan penjatuhan sanksi kita terbiasa untuk lebih waspada terhadap kesalahan. Hukuman manusia masih begitu ringan. Terkadang masih terbalut dengan rasa kasihan dan permakluman. Semoga dengan terbiasa menjaga diri agar terhindar dari penjatuhan sanksi insya Allah akan mengantarkan kita untuk terbiasa menghindari dosa agar selamat dari azab Allah nanti di yaumil akhir.

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ


“Maka barang siapa yang dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh sangat beruntunglah ia” (Ali Imran:185).


Minggu, 08 Mei 2011

Mencintai Setulus Hati

By: M. Agus Syafii



Laki-laki separuh baya itu duduk pembaringan menemani istrinya sampai kemudian menghembuskan napas terakhir.  Mencintai dengan setulus hati pada istri telah menjadi komitmen, ketika dirinya didera ketakutan hidup sendiri telah menghantui dirinya sejak lama. Ia berusaha mempersiapkan diri dan selalu berusaha melayani istri dengan baik karena menderita sakit. Kesabaran karena kasih sayang tak terukur yang diberikan pada istrinya sebab ia dan anak-anaknya  benar-benar merasakan kasih sayang dari istri dan ibu yang tidak pernah sedikitpun menyakiti hati mereka.  Meski menderita sakit namun kata-kata dan sikap yang begitu lembut dan tidak pernah menjadi marah. Sampai kemudian terjadilah apa yang ditakutkan, serangan penyakit yang tak tertolong oleh dokter dan rumah sakit dengan peralatan modern  sekalipun telah merenggut jiwa istrinya. Ia merasa shock dan terpukul atas kepergian sang istri. Berkali-kali jatuh pingsan, menjadi lemah dan tak berdaya setelah
kepergiannya. Sebagai suami merasakan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya dan tidak tahu harus berbuat apa. 

Ia menatap anak-anaknya yang tumbuh besar  begitu sedih dan menangisi kepergian ibu yang begitu menyayangi mereka namun mereka lebih terpukul melihat keadaan dirinya yang tidak lagi memperdulikan mereka, tidakk lagi mengurus apapun termasuk mengurus dirinya sendiri. Tiap hari ia lebih banyak duduk dan setiap kali memandangi poto-poto yang menempel didinding, air matanya mengalir deras. Buku-buku, benda kesayangan, tanaman dihalaman tetap disiraminya. Juga binatang peliharaan kesayangannya seolah mengingatkan lagi usapan tangan yang lembut, Ia tidak mau memindahkan semua benda atau apapun yang berkaitan dengan istrinya. Perasaan kehilangan telah membuatnya tidak lapar dan haus membuat tubuhnya menjadi lemah dan tak bergairah untuk bekerja.  Dalam kesendirian dirinya bertanya-tanya, 'Bila Allah Maha Baik mengapa membiarkan kami kehilangan orang yang kami cintai? Mengapa kebahagiaan keluarga kami begitu singkat? 

Ketika keadaan sudah sedemikian parah dan ia ditengah keterpurukannya, sampai kesempatan mengenal orang yang mengalami hal yang sama di Rumah Amalia, kehilangan orang yang dicintainya, menanggung beban yang berat. Akhirnya ia menemukan dirinya sendiri dan bisa mengatasi rasa perih akibat orang yang dicintainya. Ia menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan cinta dan kasih sayang pada istrinya, rasa cinta itulah yang menguatkan dirinya agar tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya dan bagi sesama dengan aktifitas sosialnya. Kenangan indah akan orang yang dicintainya tetap disimpannya dan sebagai penyembuh bagi dirinya. Rasa perih, kesepian dan kesendirian perlahan-lahan telah mencair, ia memperoleh makna hidup yang membuatnya semakin bijak dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Selasa, 03 Mei 2011

Cinta Itu Membahagiakan

By: M. Agus Syafii

 
Cinta itu membahagiakan justru ketika kita sedang diuji, orang yang kita cintai berkhianat namun akhirnya minta bantuan kita dan kita membantunya. Itulah cinta yang membahagiakan, cinta kita tetap kokoh, tidak peduli badai yang menimpa hidup kita. Ada seorang Ibu yang berkenan bershodaqoh di Rumah Amalia sebagai wujud tanda syukur kepada Allah yang telah mengembalikan keutuhan keluarganya, beliau bertutur awalnya ia dikhianati oleh suami yang juga seorang pengusaha sukses, cintanya kepada istrinya luntur karena tergoda oleh perempuan lain. keluarganya berakhir dengan perceraian dan suami meninggalkan ia serta anaknya.

Seiring waktu pengusaha ini ternyata menikah dengan seorang perempuan yang hanya ingin mendapatkan materi dan kekayaannya semata. Setahun kemudian kekayaannya terkuras habis, pertengkaran demi pertengkaran terjadi terus menerus. Konflik rumah tangga seolah tiada akhir dan membuatnya sakit keras dan masuk rumah sakit. Ditengah sakit, istrinya tidak mau merawat dan mengurus suaminya. Dalam kondisi sakit dan sendiri si pengusaha itu menghubungi mantan istrinya. Dia mencoba mengabarkan keadaan dirinya yang tengah terbaring di Rumah Sakit. 'Aku sakit, Tolong aku Ma, aku menyesal dan minta maaf telah melukai hatimu.' tuturnya. 'Istrimu kemana?' 'Entahlah, kami sudah berpisah,' jawabnya melemah.


Ibu itu menangis mendengar kabar mantan suaminya yang tengah terbaring di Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang Ia mengambil uang di buku tabungan. Anaknya sempat melarang, 'Ma, untuk apa Mama peduli dengan ayah yang tidak bertanggungjawab, kita juga hidup susah Ma. Ayah telah membuat hidup kita menderita.' Dengan berlinangan air mata sang ibu kemudian menjelaskan kepada anaknya. 'Dek, Mama tahu adek menderita karena ayah. Ingatlah dek, Allah mengajarkan kita agar kita sebagai hambaNya membalas keburukan siapapun dengan kasih sayang.' Anak dan ibu terlihat berdua menangis karena relung hatinya dipenuhi kasih sayang Allah.


Sang Ibu lalu bergegas ke Rumah Sakit untuk merawatnya, laki-laki yang pernah mengkhianati & melukai hatinya. Kesembuhannya membawa berkah. Menyadarkan untuk rujuk kembali bersama anak dan istrinya. Di Rumah Amalia  bersama suami dan anaknya telah menemukan kebahagiaan kembali, wajahnya memancarkan kedamaian ditengah keluarga yang telah utuh kembali. Itulah cinta yang membahagiakan. Bila kita mengerti, kita tidak akan mengeluh menjalani kesulitan hidup ini. karena cinta Allah kepada kita senantiasa hadir dan menguatkan kita dalam menghadapi badai kehidupan.


'Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadaMu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun' . (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).

Selasa, 26 April 2011

jadwal SNMPTN dan SIMAK !!

REMINDER! buat kamu yang taun ini mau ke PTN
SNMPTN


  • Pendaftaran online: 2-24 mei 2011
  • Ujian tulis: 31 mei-1 juni 2011
  • Ujian keterampilan: 3-4 juni 2011
  • Pengumuman: 30 juni 2011
SIMAK
  • Pendaftaran online: 3-24 juni 2011
  • ujian tulis: 3 juli 2011
  • Pengumuman: 24 juli 2011






•Siapkan alat tulis dengan lengkap, jika pakai pensil.  mekanik jangan lupa isi pensil beserta pensil cadangan


•letakkan kartu peserta dengan tempat pensil agar tidak ketinggalan. sebaiknya kartu dilaminating agar tidak terkena hujan atau hal yang tidak diinginkan


•sampai di tempat ujian 15 menit sebelum ujian dimulai agar dapat mengecek kembali alat yang dibutuhkanm selain itu, datang lebih awal dapat membuat mental kita lebih siap


•berdoa sebelum ujian dimulai agar dipermudah saat ujian serta terhindar dari hal yang tidak diinginkan


•alokasikan waktu dengan baik dari soal yang mudah hingga sulit, jangan tunda untuk membulatkan jawaban


•periksa kembali nama, kode soal, nomor peserta, dan identitas lainnya sebelum dikumpulkan


• jangan membuat gerakan tubuh yang mencurigakan agar tidak di black-list oleh pengawas


Ayo semangat!! berikan yang terbaik karena ujian ini adalah pintu untuk masa depan! jangan lupa ibadah ditingkatkan karena cuma Allah yang bisa menentukan kelulusan kita. jangan sia-siakan ya :D

Senin, 25 April 2011

kisah imajinatif, izinkan aku istirahat sejenak

deeply-deep.blogspot.com
Sungguh kehidupan ini terkadang membuat kita terus berlari-berlari tanpa jeda.
Usia 3 tahun orang tua sudah mencari-cari tempat bermain untuk anak-anaknya.
Sekarang dikenal dengan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Setelah itu masuk ke
TK A-B. Selang 2-3 tahun kemudian, orang tua sudah mulai mencari-cari sekolah
terbaik buat buah hatinya.


Gong perlarian mulai didentumkan. Tuntutan menjadi juara dan pluit kompetisi
semakin sering terdengar di telinga si anak. Enam tahun kemudian, orang tua
mewanti-wanti agar belajar yang rajin dan sungguh-sungguh, itu semua beralasan
untuk masa depan si anak, supaya mudah masuk kejenjang sekolah selanjutnya.


Sang anak sekarang mulai memasuki medan persaingan baru, teman-temannya juga
baru. Aneka jenis pertandingan yang mesti dia menangkanpun, berbeda dengan masa
di Sekolah Dasar dulu. Namun ada satu yang tetap sama, juara kelas. Sehingga,
untuk mendapatkan itu, sang anak dibawa lari oleh tuntutan mengikuti pelajaran
tambahan setelah selesai sekolah. Ada yang ikutan bimbingan belajar, adapula
yang guru pengajar diundang kerumah, bagi orang tua yang mampu.


Berapa tahun berlalu, tanpa disadari, tiba-tiba sudah berhadapan lagi dengan
Ujian Nasional. Tingkat kosentrasi yang berujung stresspun mulai menyapa,
karena berbagai harapan dan gambaran-gambaran ketakutan dihadapkan kepadanya.


Setelah lulus, sang Anak mulai dilanjutkan lagi ke jenjang Sekolah Menengah
Atas. Dia mulai merasakan suatu emosi yang terus bergejolak meledak-meledak
dalam dirinya, dia tidak tau perasaan apa itu. Perasaan itu khusus hadir saat
mendengar, melihat dan berdekatan dengan lawan jenisnya. Ia mengabaikannya,
karena teringat kembali dengan program ”Belajar yang rajin,
belajar..belajar..belajar agar jadi juara” yang ditanamkan oleh orang tuanya.


Tiga tahun belalu, kehidupan sianak hanya dipenuhi dengan belajar-belajar dan
belajar. Ia terus berlari-berlari dengan sang target. Sekarang sang anak
memasuki dunia kompetisi baru lagi, namun lebih fleksible. Karena tempat baru
ini, mempunyai pilihan yang lebih banyak dalam mengambil tindakannya. Kompetisi
di arena Perguruan Tinggi.


Karena si anak sudah terlatih semenjak kecil, yang sudah habitut baginya,
belajar-belajar dan terus belajar, sehingga ia agak berbeda dengan
teman-temannya yang lain. Teman-temannya tidak semuanya sibuk seperti dia. Ada
ikut kegiatan menyanyi dan menari, olah raga, jurnalistik, lembaga dakwah
kampus, bisnis dll. Sementara sang Anak yang sudah dewasa itu, aktivitasnya
adalah rumah, kampus dan perpustakaan.


Akhirnya ia lulus dengan nilai terbaik sebagai sang juara diangkatannya,
Cumlaude. Kehidupan belum berakhir, malah seakan-akan semakin dimulai. Setelah
lulus, Ia pun melamar pekerjaan. Alhamdulillah dia diterima ditempat kerja yang
bonafide, sekaligus arena perlombaan dan kompetisi baru baginya. Di arena ini
tidak kalah menarik dari ring-ring kompetisi yang telah ia menangkan. Seperti,
setiap hari senin, meeting mingguan sebagai progres pekerjaan yang telah
dilakukan bersama team dan bosnya. Telinga nya tidak pernah luput mendengar
kata-kata target...target...target... dari atasannya.


Target demi target ia lampaui. Suatu hari saat pulang kerumah bertemu orang
tuanya. Ia mendengar pertanyaan, ”Kapan kamu menikah?” pertanyaan itupun
menambah target baru dalam hidupnya. Ia pun mencari dan mencari serta
mencocokkan antara kriterianya dan juga masuk kriteria orang tuanya.


Setelah pencarian berlangsung, dia menemukan pedamping hidupnya. Pernikahan pun
berlangsung. Sementara di arena kerja, di kantor dia terus mengejar target
untuk menaiki jenjang lebih tinggi. Menjadi Manager, Kepala Cabang hingga
menjadi Direktur. Seiring waktu, tuntutan keluarganya pun semakin bertambah
berbarengan tingginya karir yang ia naiki.


Rasa Penyesalan
Sampai suatu ketika, ia duduk disamping sebuah jendela. Melihat kebawah, ada
anak-anak yang sedang bermain di taman. Mereka bermain sungguh sangat
mengasyikan penuh riang gembira. Muncul pertanyaan dalam dirinya ”Kapan aku akan
seperti itu?”.


Ditaman itu ada jalan kecil setapak terbuat dari beton. Di atas jalan tersebut,
ia melihat ada lelaki sedang mendorong kereta bayi bersama istrinya sambil
mengendong anak mereka. Lagi-lagi ia bertanya dalam dirinya ”Kapan aku akan
seperti itu?”.


Dari jendela itupun ia melihat, ada kursi terbuat dari besi. Di kursi tersebut
ada seorang kakek dan nenek seusianya, duduk mesra dihampiri oleh anak-anak dan
cucunya. Sekali lagi ia bertanya ”Kapan aku seperti itu?”.


Dengan wajah penuh kesedihan. Tiba-tiba ia sadar, sekarang sedang berada di
panti jombo. Istrinya sudah lebih dahulu meninggalkan arena perlombaan
(meninggal). Diapun tidak tau, dimana anak-anaknya berada dan dimana mereka
tinggal. Kemudian, tanpa kuasa dia menahan, air mata mengalir membasahi pipinya.
Air mata penyesalan.Karena ia sadar, seharusnya pertanyaan tadi tidak ia
tanyakan. Sebab ia sudah melampauinya semua. Namun, tidak pernah dia luangkan
waktu untuk menikmatinya. Akhirnya, ia berujar kepada dirinya sendiri ”Izinkan
aku istirahat sejenak”. Dia pun menutup mata dan beristirahat selamanya, dalam
jiwa penuh penyesalan.


Ciganjur, 3 Maret 2011
Oleh: Rahmadsyah Mind-Therapist <rahmad.aceh@yahoo.com>
 

Minggu, 24 April 2011

Secangkir Kopi



Seorang wanita bernama Dedo, seorang ketua perkumpulan al-ifadah berkata:


Aku pandangi secangkir kopi yang ada di hadapanku, lalu dengan penuh perenungan aku hayati dan dalami ibrah-ibrah yang ada padanya.


Betul bahwa yang ada di hadapanku hanyalah secangkir kopi, akan tetapi, saat aku merenung, ternyata ia tidak hanya secangkir kopi, ada sekian banyak “filsafat-filsafat” yang terkandung di dalamnya.


Saya mencoba mengaitkan antara secangkir kopi itu dengan perilaku manusia, dan – Alhamdulillah – ada banyak point bisa saya tuliskan di sini, diantaranya:


1. Saat sepintas aku pandangi cangkir kopi itu, bentuk phisik dan penampilan lahiriahnya tidaklah menarik, terutama warna kopi yang ada dalam cangkir tersebut, namun, saat aku cicipi dia, dan sedikit demi sedikit aku seruput, rupanya kelezatan dan kenikmatan “luar biasa” aku dapatkan, dan rasanya, tidak relah kalau isi secangkir itu akan segera habis.
Begitulah sosok lahiriah dan penampilan seseorang, bisa jadi tampang dan rupanya tidak menarik perhatian kita, namun, setelah ia berbicara denganmu, mulailah “kenikmatan-kenikmatan” kamu rasakan, dan rasanya tidak ingin ada akhir dari pembicaraannya dan berharap agar terus menerus ia berbicara dan jarum jam tidak bergerak dari posisinya.
2. Ada juga cangkir kopi yang secara lahiriah bentuk, warna dan rupanya sangat menawan, dan anda pun membayangkan, mungkin kopinya juga luar biasa rasanya dan segera anda ingin menyeruputnya, menikmati sedikit demi sedikit kopinya, namun, begitu lidah anda mencicipinya, segera anda ingin meludahkan dan menumpahkannya, betapa tidak, kopi itu terlalu pahit, campur getir dan … suangat tidak enak.
Begitulah sebagian dari manusia, secara lahiriah, ia sangat menarik, tampan, guanteng, perlente, necis dan … professional, atau cantik nan menawan. Rasanya kita ingin segera dekat dengannya, bergaul, mengobrol, mendengarkan kalimat-kalimatnya dan “petuah-petuah”-nya, namun, begitu kita mulai mendengarnya, terbukalah bahwa ternyata otaknyacupet dan dangkal, wawasannya cekak dan ecek-ecek, pandangannya sempit, dan kita pun berandai-andai kalau saja tidak pernah bertemu dengannya dan tidak pernah mendengarnya sama sekali, atau minimal, kita pun ingin segera kabur meninggalkan forumnya.
3. Ada juga sebagian orang yang kecanduan kopi, setiap saat ingin menenggak kopi dan nyaris tidak mampu berpisah dengannya, ibaratnya, ia telah tenggelam dalam “kenikmatan kopi” dan “tanpa hidup tanpa kopi”, seakan di mana ada berita tentang kopi enak, niscaya kita akan dengan mudah menemukan sosok itu di sana, dan di mana pun kita melihat sosok tersebut, kecuali bersamanya ada secangkir kopi!!!
Begitu juga dalam pergaulan kita dengan sesame, terkadang (kalau bukan sering) kita dapati seseorang yang tidak dapat berpisah dengan kekasihnya, seakan keduanya sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang, kemana pun yang satu pergi, pasti yang satunya ada di sisinya, dan saat anda paksakan keduanya berpisah, seakan masing-masing terkena penyakit gila karena tidak mampu berpisah dengan pasangannya.
4. Ada juga yang mampu melihat secangkir kopi, namun ia tidak mampu menikmatinya, sebab ia tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Sayangnya, juga tidak ada yang besedekah secangkir kopi kepadanya. Karenanya, ia mencukupkan diri menikmati aromanya, menikmati pula pemandangan orang-orang yang menikmatinya, lalu saat mereka pergi meninggalkan forum kopi tersebut, ia pun ikut pergi bersama mereka.
Hal itu bisa jadi terjadi di alam hubungan antar sesame manusia. Ada orang-orang tertentu yang mencintai orang lainnya dari jarak jauh dan ia tidak mampu mendekati fans-nya dalam jarak dekat, sebab ia tidak memiliki kemampuan untuk mendekat, atau tidak memiliki cara untuk mendekat, atau tidak memenuhi kriteria untuk mendekat, padahal ia melihat orang-orang lainnya mampu duduk berdekatan dengan fans-nya, lalu ia mencukupkan diri dengan “kebahagiaan” tersebut, dan ikut pergi serta bubaran bersama mereka-mereka yang mampu mendekat saat harus terjadi perpisahan atau pembubaran acara.
5. Ternyata di pasaran ada banyak ragam kopi dengan nama yang berbeda-beda. Cita rasanya pun juga tidak sama. Menariknya, cara manusia menikmatinya pun beragam.
Begitulah alam manusia, selalu ada saja “judul” yang dibuatnya. Gaya dan penampilannya pun aneh-aneh, dan kita pun, sebagai “penonton” berbeda juga cara kita dalam memandang, menilai, menyeleksi dan berdekatan dengannya.
6. Ada secangkir kopi yang kita seruput di saat musim atau udara dingin, agar tubuh menjadi hangat, setetes demi setetes kopi masuk ke dalam mulut kita dan sedikit demi sedikit pula tubuh menjadi hangat.
Begitulah keadaan manusia, ada orang-orang tertentu yang bila anda dekat dengannya, ia memberimu kehangatan melalui cintanya, perkawanannya, kemesraannya, dan perasaannya, sehingga kehadirannya selalu memberi rasa segar yang semakin menambah gairah detik-detik kehidupan.
7. Ada juga cangkir kopi yang tampak indah dari luar dan kejauhan, namun, begitu kita datangi, ternyata cangkir itu kosong!!!
Mirip sesosok manusia yang selalu ingin tampil serba segala-galanya, dan kita pun memandangnya dari luar dan kejauhan sebagai sosok yang penuh isi, namun, begitu kita mendekat, ternyata hanyalah sebuah tong kosong berbunyi nyaring!!!
8. Ada juga secangkir kopi yang rasanya tidak sempurna kalau tidak didampingi oleh kue-kue manis untuk menutupi rasa pahitnya. Mirip seseorang yang anda “terpaksa” berkawan dan duduk bersamanya, hanya saja anda tidak dapat melakukannya seorang diri, anda perlu seorang atau lebih teman duduk bersamanya, agar memiliki daya tahan lebih bersamanya.
9. Terkadang anda dihidangi secangkir kopi panas yang sangat panas, sehingga anda perlu ekstra hati-hati saat ingin menyeruputnya kalau tidak ingin lidahmu “terbakar” dan tenggorokan serta perutmu “terkelupas”. Mirip seseorang yang anda tidak mampu lagi bertahan mendengarkan kalimat dan gaya-gayanya, sebab ia selalu “menyengat”-mu dengan kalimat, cara dan gaya serta sikap perilakunya.
10. Secangkir kopi, anda telah berlelah-lelah mempersiapkannya, bahkan terkadang (kalau tidak sering) anda berlama-lama memberi “sentuhan” kepadanya, namun, begitu ready dan siap saji, ternyata hasilnya tidak seperti yang anda prediksi dan anda bayangkan, bahkan sangat mungkin, ternyata kopi itu sangat tidak enak.
Hal ini mirip seseorang yang telah anda perlakukan dengan istimewa dan anda sikapi dengan akhlaq-akhlaq mulia, namun, sama sekali tidak ada timbal baik positif darinya, walau sekedar kata “terima kasih”, dan bahkan sangat mungkin ia menempatkan anda pada posisi serba sulit, atau “melemparimu” dengan kata-kata yang menyakitkan.
11. Satu hal yang harus selalu anda ingat, hati-hati saat menyeruput secangkir kopi, jangan sampai ada yang tertumpah atau menetes dan mengenai pakaian anda, terutama kalau yang berwarna putih. Oleh karena itu, lakukan seleksi yang baik dan benar saat anda harus berteman, jangan sampai sang teman menyeretmu dalam keburukan, padahal anda tidak melakukannya, atau istilahnya “kena abunya”, atau “tidak dapat nangkanya, tapi kena getahnya”, atau “dapat perekatnya padahal tidak ikut makan pulut atau ketannya".