Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

Bermain Game : Mengasah Kemampuan Otak

oleh: haifa mardhotillah


Bermain game. Bagi sebagian besar orang, bermain game ibarat sebuah candu. Seakan tak mengenal batasan usia, jenis kelamin, dan kemampuan ekonomi, game bisa menjadi kegiatan menyenangkan sekaligus pengisi waktu luang.
Game yang dimaksud adalah video game atau konsole yang bisa dimainkan dalam berbagai platform. Misalnya platform PlayStation, PC, XBOX, atau handheld seperti PSP, Gameboy, atau bahkan di ponsel.
Main game sebenarnya bermanfaat atau tidak? Kita sering mendengar efek efek negatif dari main game, seperti sekolah atau kerjaan terbengkalai, pelajaran tertinggal dan sebagainya. Lalu pertanyaannya muncul, apakah ada manfaat dari main game itu?
Di tengah perdebatan pengaruh buruk yang ditimbulkan dari game, ada juga yang melakukan penelitian tentang manfaat yang didapat oleh gamer dari sebuah video game.
Beberapa peneliti dari University of Rochester di New York, Amerika melakukan riset mengenai pengaruh positif dari bermain game. Dalam riset tersebut, para gamers usia antara 18 hingga 23 tahun dibagi menjadi dua kelompok.
Yang pertama, adalah gamer yang dilatih dengan game Medal of Honor (Sebuah game FPS yang cukup terkenal). Mereka main game ini satu jam tiap hari selama sepuluh hari berturut-turut. Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pemain game ini memiliki fokus yang lebih terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang jarang main game, apalagi yang tidak main sama sekali.
Dengan kata lain, game dapat membantu melatih orang-orang yang memiliki problem dalam berkonsentrasi. Karena proses belajar lewat main game ternyata cepat diserap seseorang. Gamer-gamer ini juga mampu menguasai beberapa hal dalam waktu yang sama atau multitasking.
Sementara itu, penelitian untuk kelompok kedua adalah kelompok gamer yang dilatih dengan Tetris. Tak seperti gamer medal of honor, gamer Tetris hanya berfokus pada satu hal pada satu waktu.
Menurut C. Shawn, kesimpulan dari test ini adalah mereka yang main Medal of Honor mengalami peningkatan dalam visual skill (penglihatan). Bermacam-macam tugas/quest yang terdapat dalam game action (misalnya mendeteksi musuh baru, melacak musuh, menghindari serangan, dll) dapat melatih berbagai aspek dari kemampuan visualisasi.
Para gamer Battle of Hasting (game perang antara Normandia dan Saxon di Hasting), di mana mereka berperan sebagai prajurit ataupun jendral dalam game tersebut, juga memberikan manfaat bagi para pemainnya. Penelitian menunjukkan bahwa Game ini membantu meningkatkan skill dalam bernegosiasi, mengambil keputusan, ataupun melakukan perencanaan, dan berpikir strategis.
Walaupun main game menjadi salah satu hiburan paling populer di dunia dan sudah dilakukan penelitian tentang dampak  positif dan negatifnya terhadap gamer, masih saja game sering kali diremehkan.
Untuk menyeimbangkan antara pro dan kontra terhadap game, selama lima belas tahun terakhir ini Mark Griffiths, profesor di Nottingham Trent University, Inggris melakukan riset. Hasilnya? Video game aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan.
Menurut Griffiths, game dapat digunakan sebagai pengalih perhatian yang ampuh bagi yang sedang menjalani perawatan yang menimbulkan rasa sakit, misalnya kemoterapi. Dengan main game, rasa sakit dan pening mereka berkurang, tensi darahnya pun menurun, dibandingkan dengan mereka yang hanya istirahat setelah diterapi. Game juga baik untuk fisioterapi pada anak-anak yang mengalami cedera tangan.

Selain itu, bermain game ternyata bisa mengurangi kepikunan pada saat menjelang berumur.
“Bermain (videogame) bersama cucu sangat baik bagi para lansia. Sebab, kami tahu bahwa interaksi sosial mampu meningkatkan kemampuan daya pikir para manula,” kata peneliti yang juga profesor psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Dr Arthur F. Kramer.
Dalam penelitian yang dilansir jurnal Psychology and Aging edisi Desember disebutkan, studi itu melibatkan 40 lansia sehat dengan range usia antara 60-70 tahun. Awalnya, para partisipan mengikuti beberapa variasi tes mental. Riset tersebut menunjukkan manula yang bermain videogame dengan strategi berat bisa meningkatkan skor mereka berdasarkan jumlah ujicoba daya ingat.
Riset mencakup 49 manula yang secara acak ditugasi untuk main videogame, dan kelompok yang tidak ditugasi main game selama lebih dari sebulan. Kelompok main game menghabiskan waktu 23 jam untuk terlibat dalam “Rise of Nations, video game dimana para pemain berkeinginan mencapai dominasi dunia. Menguasai dunia membutuhkan setumpuk tugas berat termasuk strategi militer, membangun kota-kota, mengelola ekonomi dan memberi makan rakyat.
Ketika penelitian berakhir, kemampuan mental mereka kembali diuji. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memainkan video game, pemain Rise of Nations menunjukkan peningkatan yang lebih besar soal cara kerja otak, ingatan jangka pendek, daya nalar, dan kemampuan berganti tugas.
Dengan kata lain, bermain game dapat memberikan banyak manfaat. Manfaat ini tidak hanya bisa dirasakan oleh kaum muda, tapi juga bisa dirasakan oleh kaum lansia. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh seperti meningkatkan konsentrasi, meningkatkan kemampuan visualisasi, meningkatkan daya ingat, mengasah berpikir secara logis dan strategis, melatih kemampuan motorik , serta melatih otak dalam hal mengambil keputusan dan melakukan perencanaan. Selain itu, video game juga aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan.
Walaupun bermain game aman dan bermanfaat, kita tetap harus memperhatikan waktu dalam bermain game. Jika terlalu lama bermain game tanpa henti, hal itu bisa membuat kita lalai terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam dunia nyata. Serta menurunkan kualitas mata dalam melihat.

Sabtu, 23 Juni 2012

Be success with your learning style


“Four decades of psychological research have shown us that each person has a different way of learning, known as his or her personal learning style. This may come as a surprise because many of us have been taught that there is only one right way to learn and think. However, research on the brain and learning has proven that. While many educators believe that teachers teach the way they were taught, some refute that claim, offering instead that teachers teach the way they learn (Dunn & Dunn, 1979; Gregory, 1979).” Students learn in many ways, like seeing, hearing, and experiencing thing first. Each of us has a unique character and individual skill that can help him or her understands the new information and experiences. We us all of our sense to learn, but most of us are strongest in one area. Generally, that there are three main learning styles: visual, auditory, and kinesthetic.

Visual learning is a style that can learn best when subjects are presented in a visual format such as pictures, diagrams, videos, graphic, or written language. He or she gets benefit from recopying or making their own notes. To understand the topic, sometimes he or she needs to read the information and translates it in own notes to make mind mapping, graphic, or a symbol. She or he can concentrate better when her or his eyes are clear line. If he or she thinking something, usually her or his eyes look at on the top. Visual learners also have a major soft skill that can persuade people because of his or her sentences. But, her or his concentrates can disturb by crowding people. So, sometimes he or she studies in the silent room.

Auditory learning is a style that absorbs information best through the sense of hearing. He or she can learn best by listening or discussing with your friends or the lecturer. In class, auditory learners usually listen the lecturer carefully and do not make any notes. He or she enjoy with the discussions or debates because he or she is being talkative in class. Auditory learners trying to memorize something with say it loudly. If he or she thinking something, usually her or his eyes look at on straight ahead her or his eyes. He or she cannot concentration to study if there is a sound or noises. 

The last style of learning is kinesthetic or psychology known as tactile. He or she can learn best when they touch or practice. Kinesthetic learners have a hard time sitting still for long periods of time and can be easily distracted by activity and commotion. Because of that, sometimes people said that kinesthetic learner is a troublemaker. Moreover, kinesthetic learner is the best for mechanical because tag line for this learning style is trial and error. He or she like to try, build a model, or touch the material when learning something new. If he or she thinking something, usually her or his eyes look at down.
Then, there are three main learning styles that can improve with your skill and ability. It is important to know your own learning style to success for study. Someone who finds his or her learning styles sometimes has a good result and gets something that she or he wants. Sometimes, we cannot do something maximally because we do not know what our learning style. You may go to consultant or psychology to gets your major learning style. But, actually we can find our major learning styles based on characteristics that sound familiar with our characteristics.  So, do not give up finding your learning styles!

Source:

Kamis, 05 Januari 2012

Bermain Game : Mengasah Kemampuan Otak (2)



Walaupun main game menjadi salah satu hiburan paling populer di dunia dan sudah dilakukan penelitian tentang dampak  positif dan negatifnya terhadap gamer, masih saja game sering kali diremehkan.
Untuk menyeimbangkan antara pro dan kontra terhadap game, selama lima belas tahun terakhir ini Mark Griffiths, profesor di Nottingham Trent University, Inggris melakukan riset. Hasilnya? Video game aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan.
Menurut Griffiths, game dapat digunakan sebagai pengalih perhatian yang ampuh bagi yang sedang menjalani perawatan yang menimbulkan rasa sakit, misalnya kemoterapi. Dengan main game, rasa sakit dan pening mereka berkurang, tensi darahnya pun menurun, dibandingkan dengan mereka yang hanya istirahat setelah diterapi. Game juga baik untuk fisioterapi pada anak-anak yang mengalami cedera tangan.


Selain itu, bermain game ternyata bisa mengurangi kepikunan pada saat menjelang berumur.
“Bermain (video game) bersama cucu sangat baik bagi para lansia. Sebab, kami tahu bahwa interaksi sosial mampu meningkatkan kemampuan daya pikir para manula,” kata peneliti yang juga profesor psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Dr Arthur F. Kramer.
Dalam penelitian yang dilansir jurnal Psychology and Aging edisi Desember disebutkan, studi itu melibatkan 40 lansia sehat dengan range usia antara 60-70 tahun. Awalnya, para partisipan mengikuti beberapa variasi tes mental. Riset tersebut menunjukkan manula yang bermain videogame dengan strategi berat bisa meningkatkan skor mereka berdasarkan jumlah ujicoba daya ingat.
Riset mencakup 49 manula yang secara acak ditugasi untuk main videogame, dan kelompok yang tidak ditugasi main game selama lebih dari sebulan. Kelompok main game menghabiskan waktu 23 jam untuk terlibat dalam “Rise of Nations, video game dimana para pemain berkeinginan mencapai dominasi dunia. Menguasai dunia membutuhkan setumpuk tugas berat termasuk strategi militer, membangun kota-kota, mengelola ekonomi dan memberi makan rakyat.
Ketika penelitian berakhir, kemampuan mental mereka kembali diuji. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memainkan video game, pemain Rise of Nations menunjukkan peningkatan yang lebih besar soal cara kerja otak, ingatan jangka pendek, daya nalar, dan kemampuan berganti tugas.
Dengan kata lain, bermain game dapat memberikan banyak manfaat. Manfaat ini tidak hanya bisa dirasakan oleh kaum muda, tapi juga bisa dirasakan oleh kaum lansia. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh seperti meningkatkan konsentrasi, meningkatkan kemampuan visualisasi, meningkatkan daya ingat, mengasah berpikir secara logis dan strategis, melatih kemampuan motorik , serta melatih otak dalam hal mengambil keputusan dan melakukan perencanaan. Selain itu, video game juga aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan.
Walaupun bermain game aman dan bermanfaat, kita tetap harus memperhatikan waktu dalam bermain game. Jika terlalu lama bermain game tanpa henti, hal itu bisa membuat kita lalai terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam dunia nyata. Serta menurunkan kualitas mata dalam melihat.

Bermain Game : Mengasah Kemampuan Otak (1)


Bermain game. Bagi sebagian besar orang, bermain game ibarat sebuah candu. Seakan tak mengenal batasan usia, jenis kelamin, dan kemampuan ekonomi, game bisa menjadi kegiatan menyenangkan sekaligus pengisi waktu luang.
Game yang dimaksud adalah video game atau konsole yang bisa dimainkan dalam berbagai platform. Misalnya platform PlayStation, PC, XBOX, atau handheld seperti PSP, Gameboy, atau bahkan di ponsel.
Main game sebenarnya bermanfaat atau tidak? Kita sering mendengar efek efek negatif dari main game, seperti sekolah atau kerjaan terbengkalai, pelajaran tertinggal dan sebagainya. Lalu pertanyaannya muncul, apakah ada manfaat dari main game itu?
Di tengah perdebatan pengaruh buruk yang ditimbulkan dari game, ada juga yang melakukan penelitian tentang manfaat yang didapat oleh gamer dari sebuah video game.
Beberapa peneliti dari University of Rochester di New York, Amerika melakukan riset mengenai pengaruh positif dari bermain game. Dalam riset tersebut, para gamers usia antara 18 hingga 23 tahun dibagi menjadi dua kelompok.

Yang pertama, adalah gamer yang dilatih dengan game Medal of Honor (Sebuah game FPS yang cukup terkenal). Mereka main game ini satu jam tiap hari selama sepuluh hari berturut-turut. Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pemain game ini memiliki fokus yang lebih terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang jarang main game, apalagi yang tidak main sama sekali.
Dengan kata lain, game dapat membantu melatih orang-orang yang memiliki problem dalam berkonsentrasi. Karena proses belajar lewat main game ternyata cepat diserap seseorang. Gamer-gamer ini juga mampu menguasai beberapa hal dalam waktu yang sama atau multitasking.
Sementara itu, penelitian untuk kelompok kedua adalah kelompok gamer yang dilatih dengan Tetris. Tak seperti gamer medal of honor, gamer Tetris hanya berfokus pada satu hal pada satu waktu.
Menurut C. Shawn, kesimpulan dari test ini adalah mereka yang main Medal of Honor mengalami peningkatan dalam visual skill (penglihatan). Bermacam-macam tugas/quest yang terdapat dalam game action (misalnya mendeteksi musuh baru, melacak musuh, menghindari serangan, dll) dapat melatih berbagai aspek dari kemampuan visualisasi.
Para gamer Battle of Hasting (game perang antara Normandia dan Saxon di Hasting), di mana mereka berperan sebagai prajurit ataupun jendral dalam game tersebut, juga memberikan manfaat bagi para pemainnya. Penelitian menunjukkan bahwa Game ini membantu meningkatkan skill dalam bernegosiasi, mengambil keputusan, ataupun melakukan perencanaan, dan berpikir strategis.

Kamis, 29 Desember 2011

Mengintip Sepak Terjang Jamkesmas untuk Masyarakat (3)


Kembali berbicara mengenai kartu berobat gratis, di beberapa wilayah seperti di Bogor, misalnya. Warga miskin tidak harus memiliki kartu berobat gratis untuk mendapatkan pengobatan gratis di rumah sakit atau puskesmas setempat. Warga miskin disana hanya cukup membawa dan menunjukkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). 100 persen biaya pengobatan ditanggung pemerintah.

Berhubung semakin banyaknya warga miskin yang meminta hak untuk kartu berobat gratis, tindakan penyalahgunaan pun bermunculan, seperti pemalsuan kartu keterangan miskin atau bahkan calo. Calo di sini berperan sebagai pengurus surat keterangan miskin untuk pemfasilitasan berobat gratis. Biasanya calo adalah perantara anatara pemerintah dan warga. Akibatnya,  banyak warga yang tidak berhak mendapatkan surat keterangan miskin dapat memperolah fasilitas berobat gratis, dan sebaliknya, warga yang miskin menjadi tidak mendapatkan fasilitas berobat gratis.

Praktik pencaloan tersebut mungkin terjadi karena kurang tanggapnya pihak kelurahan atau kecamatan dalam memperhatikan warga miskin. Itu adalah contoh kesenjangan sosial lain yang terjadi antara pemerintah setempat dengan warga.


Saatnya Restorasi Kebijakan
Pada dasarnya, Jamkesmas mempunyai fungsi utama, yaitu untuk memberi perlindungan kepada peserta Jamkesmas dalam bentuk pemeliharaan kesehatan paripurna dengan sistem jaminan kesehatan yang terkendali, baik mutu maupun biayanya. Namun, apakah fungsi dari Jamkesmas sudah berjalan dengan baik saat ini?

Dari pihak pemerintah, pendistribusiannya dinilai cukup baik, Namun, ada beberapa keluhan di lapangan karena adanya ketidaktelitian pada saat pendataan warga miskin. Ada beberapa warga miskin yang terlewat, sehingga tidak mendapatkan kartu Jamkesmas. Hal itu tentu merugikan warga yang memerlukan kartu tersebut dalam waktu dekat.

Jika ditinjau dari pihak pelayanan rumah sakit, kebanyakan pihak rumah sakit yang bermasalah hanya melayani pasien dengan cara setengah-setengah, seperti mendapatkan kamar rawat inap dengan gratis, tetapi tetap harus membayar biaya infus, atau pihak rumah sakit menolak dengan alasan tempat tidur penuh, tidak punya peralatan kesehatan, atau dokter dan obat yang tidak memadai. Juga pelayanan rumah sakit dinilai lamban dalam melayani masyarakat yang menggunakan kartu Jamkesmas. Paramedis kurang melayani pasien pengguna kartu Jamkesmas dengan maksimal dan terkesan pilih kasih dengan pasien yang berduit. Kendala juga ditemukan dari warga pemegang kartu Jamkesmas semdiri. Mereka enggan menggunakan faslitas Jamkesmas, karena mereka khawatir ditolak berobat secara halus oleh pihak rumah sakit.

Sungguh keadaan yang mengenaskan. Di negara berkembang yang sedang ‘maju-maju’-nya ini, masih saja ada kesenjangan di bidang kesehatan. Pasien yang kurang mampu tidak bisa mendapatkan hak berobat dengan sepenuhnya, seperti yang seharusnya yang telah diatur oleh negara ini. Hanya karena banyak pihak lain yang ingin mendapatkan keuntungan dari program Jamkesmas dan kurang baiknya koordinasi dari berbagai pihak. Seperti kasus pungutan liar atau dokter yang tidak mau dibayar murah. Dari masalah-masalah yang terjadi dapat disimpulkan bahwa keberadaan kartu Jamkesmas dapat membantu warga miskin jika pelaksanaannya dilakukan dengan yang seharusnya yaitu bertujuan untuk membantu rakyat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bukan untuk menyulitkan mereka.

Dengan berbagai permasalahan yang timbul dari berbagai elemen, sudah selayaknya pemerintah merestorasi kebijakan jaminan kesehatan masyarakat agar tidak ada lagi kasus-kasus yang timbul di masyarakat serta berbagai masalah kompleks lainnya.

Upaya-upaya restorasi tersebut dapat dimulai dengan mengevaluasi kebijakan dan melakukan sosialisasi Jamkesmas ke berbagai kawasan di tanah air sehingga pasien miskin tidak lagi menderita. Selain itu, untuk meningkatkan jumlah pasien diluar Jamkesmas pemerintah sebaiknya melakukan berbagai inovasi yaitu dengan berbagai macam pelayanan unggulan, mengubah perilaku tenaga kesehatan dengan melaksanakan pedoman perilaku 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Citra Pelayanan Prima (CPP) yakni berkomitmen melaksanakan pelayanan yang cepat dan ramah yang ditunjang oleh peralatan-peralatan canggih.

Adanya hubungan yang baik antara pemerintah dengan pihak rumah sakit juga dapat meningkatkan pelayanan Jamkesmas terhadap pasien miskin. Hubungan baik tersebut akan muncul ketika kedua belah pihak saling menghargai dan tanggung jawab terhadap kerja sama yang telah dijalin.

Pasien miskin pun sebaiknya turut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program Jamkesmas dengan memanfaatkan seluruh falisitas yang disedikan pemerintah serta tidak ragu untuk mencari informasi dan bertanya terhadap pemerintah. Diharapkan dengan adanya restorasi kebijakan tersebut dapat mengurangi berbagai masalah yang ada di tengah masyarakat serta terbentuk suatu sistem yang lebih baik, teratur, dan tepat. 



sumber:

Bataviase.“70 Persen Pasien Miskin Keluhkan Layanan RS.”


Bimeks. “Pelayanan Jamkesmas Dikeluhkan Pasien.” Sumbawa News. http://www.sumbawanews.com/berita/daerah/pelayanan-jamkesmas-dikeluhkan-pasien.html (16 Jun, 2011)

Setiono, Deni A. “Pelayanan KSK dan Jamkesda di Gresik Dikeluhkan.” Berita Jatim. http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-05-10/100401/_Pelayanan_KSK_dan_Jamkesda_di_Gresik_Dikeluhkan (16 Jun, 2011)

Molan, Laurensius. “Rumah Sakit Untuk Orang Miskin.” Format News. http://www.formatnews.com/?act=view&newsid=1971&cat=57 (16 Jun, 2011)

Mohari, Henky. “RSUD Tanjungpinang Diminta Tingkatkan Layanan Jamkesda.” Antara News. http://kepri.antaranews.com/berita/16803/rsud-tanjungpinang-diminta-tingkatkan-layanan-jamkesda (16 Jun, 2011)


http://infopetadaerah.blogspot.com/2010/07/ada-14-kriteria-yang-dipergunakan-untuk.html - 14 kriteria masyarakat miskin menurut standar BPS  (29 juni 2011)

http://bppkbtanjabtim-kadafi.blogspot.com/-UU DAN MENKES BARU: KADO HARI KESEHATAN NASIONAL-Oleh: Hendriyanto,S,IP, M.Kes-rabu, 11 november 2009

 

KG/J. “Rumah sakit Tidak Boleh Tolak Pasien.” Media Indonesia, 23 Mei. 2011, 11.

Kartu Berobat Gratis di Bekasi Diduga Banyak Salah Sasaran. 15/06/2010http://www.pikiran-rakyat.com/node/115931 


http://regional.kompasiana.com/2010/07/28/menggendong-mayat-anaknya-karena-tak-mampu-sewa-mobil-jenazah/ Ayah Menggendong Mayat Anaknya Karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah 28/07/2010




Mengintip Sepak terjang Jamkesmas untuk Pasien Miskin (2)


Realita Jamkesmas di Masyarakat




Awal munculnya Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) adalah pada tahun 2004 oleh Departemen Kesehatan. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah biaya kesehatan bagi warga miskin. Jamkesmas sendiri memiliki sasaran sekitar 76 juta warga miskin, dengan anggaran lebih dari 5 triliun rupiah pada tahun 2010. Untuk memperoleh fasilitas tersebut, warga miskin diberi semacam tanda bahwa mereka layak mendapatkan fasilitas pengobatan gratis dengan kartu berobat gratis.

Peran kartu berobat sendiri sesungguhnya adalah untuk memudahkan rakyat miskin atau tidak mampu membayar biaya kesehatan untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa pungutan biaya apapun. Kartu berobat gratis sebenarnya dapat digunakan tanpa harus menunjukkan KTP atau rujukan pihak rumah sakit atau puskesmas. Di beberapa daerah, keberadaan  Jamkesmas telah membantu warga miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Salah satu contoh realisasi pelayanan Jamkesmas yaitu di Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang yang rata-rata warganya berprofesi sebagai nelayan dan buruh pelabuhan. Dengan penghasilan yang diperoleh para nelayan dan buruh pelabuhan yang sangat pas-pasan untuk menghidupi keluarganya, Jamkesmas membantu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus memberikan biaya pengobatan.

Namun, tampaknya sistem Jamkesmas ini belum berfungsi dengan baik. Banyak rumah sakit yang menolak untuk memberikan layanan kesehatan gratis, meskipun para rakyat miskin telah menunjukkan kartu berobat gratis milik mereka. Pihak rumah sakit menolak untuk memberikan layanan kesehatan gratis. Setiap rumah sakit yang melakukan penolakan tersebut mempunyai alasan yang beragam. Pasalnya, mayoritas rumah sakit tersebut beralasan bahwa pemerintah tidak tuntas dalam melakukan subsidi atau pembayaran terhadap rumah sakit terkait sehingga hutang pemerintah terhadap rumah sakit semakin menumpuk. Jika melihat dari sudut pandang yang objektif, dapat disimpulkan bahwa pemerintah dan rumah sakit tidak concern terhadap permasalahn pasien miskin.

Pemerintah sebagai pemimpin yang pada hakikatnya mengayomi masyarakat seharusnya memberikan anggaran yang cukup untuk menyubsidi pasien miskin sehingga tidak perlu lagi berhutang pada rumah sakit. Persentasi  anggaran pendapatan negara maupun daerah untuk kesehatan dan pendidikan setidaknya sedikit lebih besar dibandingkan anggaran lain. Disisi lain, dengan sikap dan pernyataan rumah sakit tersebut, jelas menjadi tanda bahwa rumah sakit itu mempunyai kepedulian sosial yang rendah. Orientasi terbesarnya adalah mencari pemasukan dan keuntungan. Tidak dapat  dipungkiri, untuk mendukung kualitas dunia kesehatan diperlukan instrumen yang lengkap dan baik ditambah tenaga kesehatan yang profesional. Tentunya untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan dana yang tidak sedikit juga. Akan tetapi, sebuta itukah dengan pencapaian profesional hingga mengesampingkan masalah sosial yang sebetulnya sangat penting?

Di Kudus Jawa Tengah, keberadaan Jamkesmas dinilai belum sesuai sasaran yang tepat bagi masyarakat yang berhak menerima karena belum adanya database yang akurat. Selain itu, di Solok Sumatra Barat keberadaan pelayanan kesehatan untuk warga yang kurang mampu, yaitu terkait dengan keberadaan Jamkesmas, masih memprihatinkan. Tidak jarang masalah kelengkapan status administrasi  terkait Jamkesmas masih dipertanyakan pada  saat kondisi kesehatan mereka sebetulnya telah kritis. Masalah pembayaran pengambilan obat juga terjadi di wilayah ini. Sebelumnya warga yang kurang mampu diharuskan untuk membayar separuh dari biaya pengambilan obat tersebut, tetapi setelah adanya pembicaraan antara salah seorang anggota DPRD Kabupaten Solok, dengan pihak  terkait, akhirnya pembayaran pengambilan obat pun dibebaskan.  


Ada juga permasalahan lain, yaitu kartu berobat gratis yang tidak teralokasikan dengan benar. Hal itu menyebabkan banyaknya warga miskin yang mendesak pemerintah setempat untuk memberikan kartu berobat gratis, walaupun pemerintah setempat mengatakan bahwa mereka telah memberikan kartu berobat gratis pada warga miskin. Hal itu mungkin terjadi karena adanya ketidaksesuaian dalam kriteria warga miskin versi Biro Pusat Statistik (BPS). Ada yang mengatakan bahwa kriteria warga miskin versi BPS tidak sesuai dengan fakta konkret lapangan. 14 kriteria miskin menurut BPS itu sendiri adalah:
  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang
  2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu / kayu murahan
  3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok tanpa diplester
  4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain
  5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik
  6. Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai /air hujan
  7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah
  8. Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu
  9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
  10. Hanya sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari
  11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik
  12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan
  13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD/ hanya SD
  14. Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
Para warga miskin mengaku bahwa keempat belas kriteria tersebut sudah tidak relevan dan tidak sesuai dengan realitas kemiskinan yang ada pada saat ini.
Jika kita lihat pada poin-poin kriteria miskin diatas, dapat disimpulkan bahwa warga yang berhak mendapatkan kriteria miskin adalah warga yang benar-benar “miskin.” Seperti pada poin nomor 8 yang dikatakan bahwa hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam satu minggu. Namun kenyataannya banyak warga miskin yang mampu mengkonsumsi makanan-makanan tersebut, namun tetap layak untuk mendapatkan predikat miskin. Dan pada poin nomor 13, disebutkan bahwa pendidikan tertinggi kepala rumah tangga maksimal hanya lulusan SD. Lalu bagaimana dengan kepala keluarga yang berpendidikan di atas SD, namun memenuhi 13 kriteria lain? 




sumber:

Bataviase.“70 Persen Pasien Miskin Keluhkan Layanan RS.”


Bimeks. “Pelayanan Jamkesmas Dikeluhkan Pasien.” Sumbawa News. http://www.sumbawanews.com/berita/daerah/pelayanan-jamkesmas-dikeluhkan-pasien.html (16 Jun, 2011)

Setiono, Deni A. “Pelayanan KSK dan Jamkesda di Gresik Dikeluhkan.” Berita Jatim. http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-05-10/100401/_Pelayanan_KSK_dan_Jamkesda_di_Gresik_Dikeluhkan (16 Jun, 2011)

Molan, Laurensius. “Rumah Sakit Untuk Orang Miskin.” Format News. http://www.formatnews.com/?act=view&newsid=1971&cat=57 (16 Jun, 2011)

Mohari, Henky. “RSUD Tanjungpinang Diminta Tingkatkan Layanan Jamkesda.” Antara News. http://kepri.antaranews.com/berita/16803/rsud-tanjungpinang-diminta-tingkatkan-layanan-jamkesda (16 Jun, 2011)


http://infopetadaerah.blogspot.com/2010/07/ada-14-kriteria-yang-dipergunakan-untuk.html - 14 kriteria masyarakat miskin menurut standar BPS  (29 juni 2011)

http://bppkbtanjabtim-kadafi.blogspot.com/-UU DAN MENKES BARU: KADO HARI KESEHATAN NASIONAL-Oleh: Hendriyanto,S,IP, M.Kes-rabu, 11 november 2009

 

KG/J. “Rumah sakit Tidak Boleh Tolak Pasien.” Media Indonesia, 23 Mei. 2011, 11.

Kartu Berobat Gratis di Bekasi Diduga Banyak Salah Sasaran. 15/06/2010http://www.pikiran-rakyat.com/node/115931 


http://regional.kompasiana.com/2010/07/28/menggendong-mayat-anaknya-karena-tak-mampu-sewa-mobil-jenazah/ Ayah Menggendong Mayat Anaknya Karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah 28/07/2010

Rabu, 28 Desember 2011

Mengintip Sepak Terjang Jamkesmas untuk Pasien Miskin (1)



“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh pemerintah.”
(UUD pasal 34)

     Bila dilihat dari kenyataan, undang-undang tersebut agaknya belum berjalan dengan yang seharusnya. Jika memang benar fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh pemerintah, seharusnya jumlah fakir miskin bisa berkurang dan tidak ada lagi anak-anak yang terlantar. Masalah mengenai hak-hak kesehatan untuk orang miskin seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) masih sering ditemukan di beberapa daerah. Beberapa rumah sakit masih melakukan penolakan untuk pasien miskin. Selain itu tanggung jawab pemerintah terhadap anak-anak dan masyarakat yang terlantar juga kurang. Masih banyak anak jalanan yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat dan orang-orang yang sakit jiwa masih banyak berkeliaran di jalanan dan tidak ada yang merasa harus bertanggung jawab terhadap orang-orang tersebut. Dari kejadian-kejadian tersebut dapat dikatakan bahwa pemerintah kurang bertanggung jawab terhadap fakir miskin dan juga anak-anak terlantar. Artinya, ruh Undang-Undang Dasar pasal 34 belum teralisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/1992  tentang Kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, setiap individu, keluarga, dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin atau tidak mampu terpenuhi. Derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur Harapan Hidup 70,5 Tahun (BPS 2007). Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan oleh sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, sejak tahun 2005 telah diupayakan untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut melalui pelaksanaan kebijakan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. Program tersebut diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan melalui penugasan kepada PT Askes (Persero) berdasarkan SK Nomor 1241/Menkes /SK/XI/2004, tentang penugasan PT Askes (Persero) dalam pengelolaan program pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin. Program itu dalam perjalanannya terus diupayakan untuk ditingkatkan melalui perubahan-perubahan sampai dengan penyelenggaraan program tahun 2012.



Perubahan mekanisme yang mendasar adalah adanya pemisahan peran pembayar dengan verifikator melalui penyaluran dana langsung ke Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dari Kas Negara, penggunaan tarif paket Jaminan Kesehatan Masyarakat di RS, penempatan pelaksana verifikasi di setiap Rumah Sakit, pembentukan Tim Pengelola dan Tim Koordinasi di tingkat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota serta penugasan PT Askes (Persero) dalam manajemen kepesertaan. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penjaminan terhadap masyarakat miskin yang meliputi sangat miskin, miskin dan mendekati miskin, program ini berganti nama menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Jamkesmas dengan tidak ada perubahan jumlah sasaran.

Dalam pasal 20 ayat 1 yang disebutkan bahwa “Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan perorangan”. Dalam pasal tersebut disebutkan secara jelas bahwa pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat. Namun, dalam pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat atau Jamkesmas tersebut masih menyusahkan rakyat bukan membantu rakyat. Terkadang mereka masih ditolak oleh pihak rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis meskipun sudah mempunyai kartu Jamkesmas. Salah satu alasannya adalah karena pihak rumah sakit merasa tidak pernah bekerja sama dengan pemerintah sehingga mereka tidak bisa menerima pasien yang menggunakan kartu Jamkesmas. Ada juga di beberapa daerah yang warga miskinnya belum mendapatkan kartu Jamkesmas bahkan mungkin ada yang belum tahu bahwa pemerintah mengadakan program pelayanan kesehatan untuk warga miskin. Bukan hanya itu, bahkan ada pasien miskin yang harus melengkapi keadministrasian terkait Jamkesmas sehingga terlambat untuk mendapatkan pertolongan meskipun pasien miskin tersebut dalam keadaan kritis. Dengan adanya masalah-masalah tersebut bisa dikatakan bahwa program pemerintah dalam melakukan pelayanan kesehatan atau Jamkesmas untuk pasien miskin belum bisa dikatakan dapat membantu meringankan beban pasien miskin.


sumber:

Bataviase.“70 Persen Pasien Miskin Keluhkan Layanan RS.”


Bimeks. “Pelayanan Jamkesmas Dikeluhkan Pasien.” Sumbawa News. http://www.sumbawanews.com/berita/daerah/pelayanan-jamkesmas-dikeluhkan-pasien.html (16 Jun, 2011)

Setiono, Deni A. “Pelayanan KSK dan Jamkesda di Gresik Dikeluhkan.” Berita Jatim. http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-05-10/100401/_Pelayanan_KSK_dan_Jamkesda_di_Gresik_Dikeluhkan (16 Jun, 2011)

Molan, Laurensius. “Rumah Sakit Untuk Orang Miskin.” Format News. http://www.formatnews.com/?act=view&newsid=1971&cat=57 (16 Jun, 2011)

Mohari, Henky. “RSUD Tanjungpinang Diminta Tingkatkan Layanan Jamkesda.” Antara News. http://kepri.antaranews.com/berita/16803/rsud-tanjungpinang-diminta-tingkatkan-layanan-jamkesda (16 Jun, 2011)


http://infopetadaerah.blogspot.com/2010/07/ada-14-kriteria-yang-dipergunakan-untuk.html - 14 kriteria masyarakat miskin menurut standar BPS  (29 juni 2011)

http://bppkbtanjabtim-kadafi.blogspot.com/-UU DAN MENKES BARU: KADO HARI KESEHATAN NASIONAL-Oleh: Hendriyanto,S,IP, M.Kes-rabu, 11 november 2009

 

KG/J. “Rumah sakit Tidak Boleh Tolak Pasien.” Media Indonesia, 23 Mei. 2011, 11.

Kartu Berobat Gratis di Bekasi Diduga Banyak Salah Sasaran. 15/06/2010http://www.pikiran-rakyat.com/node/115931 


http://regional.kompasiana.com/2010/07/28/menggendong-mayat-anaknya-karena-tak-mampu-sewa-mobil-jenazah/ Ayah Menggendong Mayat Anaknya Karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah 28/07/2010